Ringkasan Wawancara Gita Wirjawan dengan Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa
Ringkasan Wawancara
Gita Wirjawan dengan Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa
(Podcast Endgame –
Desember 2025)
1. Latar Belakang
Purbaya
- Lulusan Teknik
Elektro ITB → langsung S3 Ekonomi di Purdue University (AS) karena “dipaksa”
calon istri.
- Kerja 5 tahun di
Schlumberger (lapangan minyak, gaji besar tapi sangat berat).
- S3 ekonomi
terpaksa, awalnya hampir menyerah karena sangat sulit, tapi istri mengancam
cerai jika pulang sebelum lulus → akhirnya belajar mati-matian di perpustakaan
16 jam/hari, lulus tercepat dan terbaik di angkatannya.
- Pulang 2000, masuk
Danareksa Research → staf khusus ekonomi di era SBY, Hatta Rajasa, Jokowi-Luhut,
lalu Kepala LPS (2020–2025), kini Menteri Keuangan.
2. Filosofi Ekonomi
Purbaya (Monetaris ala Milton Friedman + Ben Bernanke)
- Krisis 1997–98 jadi
pelajaran terbesar: Indonesia salah kebijakan karena bunga naik 60% (riil mati)
tapi M0/M1 dicetak 100%+ (rupiah & inflasi hancur).
- Kesimpulan:
kebijakan moneter yang benar bukan dari suku bunga, tapi dari laju pertumbuhan
base money (M0).
- Jika M0 tumbuh
lambat/nol/negatif → kebijakan moneter ketat (ekonomi dicekik), walaupun bunga
rendah sekalipun.
- Saat ini (2025) Indonesia mengalami gejolak sosial bukan karena politik
semata, tapi karena M0 hampir nol selama berbulan-bulan → likuiditas sistem
kering.
3. Kebijakan Utama yang Sudah & Sedang Dijalankan
- Memindahkan dana pemerintah idle di BI (425 T) ke perbankan (sudah 200 T
+ 76 T tambahan) → M0 langsung naik dari hampir 0% → 13,3% (Sept) → ditargetkan
double-digit berkelanjutan (ideal 20%+).
- Tujuannya: ciptakan “self-fulfilling prophecy” positif → balikkan
ekspektasi masyarakat dari pesimis → optimis.
- Hasil: indeks
kepercayaan konsumen & kepercayaan kepada pemerintah sudah kembali ke level
sebelum krisis (Oktober 2025).
- Memaksa kementerian & pemda belanja (ada 200–230 T dana pemda
mengendap).
- Menutup impor ilegal dulu (tak ada yang protes), lalu akan lanjut ke
impor legal yang tidak fair (Cina dll) dengan tarif.
4. Target Pertumbuhan 8%
- Baseline realistis: 6,5% (gabungan mesin swasta era SBY + mesin
pemerintah era Jokowi).
- Tambahan 1,5% lagi untuk capai 8% harus dari luar (PMA).
- Kunci: debottlenecking investasi (pengalaman 2016–2019 sukses selesaikan
193 kasus senilai Rp830 T).
- Akan dibentuk Satgas Percepatan Ekonomi dengan 3 divisi:
1. Pastikan belanja
pemerintah jalan
2. Debottlenecking keluhan dunia usaha
(sidang tiap Senin)
3. Perbaikan regulasi yang tumpang tindih
5. Investasi & Talenta STEM
- Indonesia hanya luluskan ~250.000 sarjana STEM/tahun (Tiongkok 4,5 juta,
India 2,5 juta).
- Dampak: investor besar mau masuk tapi kekurangan insinyur (contoh
Pegatron Taiwan butuh 150 insinyur elektro saja sudah sulit).
- Solusi: ciptakan permintaan dulu lewat investasi → baru suplai talenta
akan mengikuti.
- LPDP akan diperkuat besar-besaran (tambahan modal 25 T tahun ini, tahun
depan lebih lagi), fokus ke kampus top dunia + kerja sama wholesale (endowment
professorship ala Tiongkok/Korea/Singapura).
6. Pendidikan
- Presiden Prabowo
akan pilot 40 sekolah terpadu (SD–SMA) berkualitas tinggi tahun depan (anggaran
12 T), target jangka panjang 7.000 sekolah.
- Purbaya: “Gaji guru 2,8 juta itu tidak benar. Kita
harus ciptakan pertumbuhan dulu supaya fiskal kuat membiayai gaji layak.”
7. Elektrifikasi & Energi
- Elektrifikasi Indonesia baru 1.300 kWh/kapita (harus ke 6.000–10.000).
- Kunci bukan bangun pembangkit dulu, tapi ciptakan masyarakat yang semakin
kaya sehingga demand listrik naik → PLN & swasta akan invest sendiri.
- Geothermal akan
didorong agresif (Geodipa di bawah Kemenkeu).
8. Demokrasi &
Pemerataan
- Demokrasi bukan
hanya distribusi suara, tapi distribusi barang publik (pendidikan, kesehatan,
kesejahteraan).
- Program langsung
seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sekolah rakyat adalah upaya pemerataan,
meski belum sempurna.
9. Pesan Penutup Purbaya
> “Kita tidak usah cemas tentang masa depan. Masa depan kita ada di
tangan kita sendiri. Kita punya pengalaman cukup dari semua krisis untuk tumbuh
lebih cepat. 8% bukan angka mustahil. Mari kita kaya bersama-sama.”
Inti pemikiran Purbaya Yudhi Sadewa:
Stabilitas makro dulu lewat M0 yang cukup → debottlenecking investasi →
permintaan talenta & listrik akan lahir sendiri → pertumbuhan 6,5–8%
realistis dalam 2–3 tahun ke depan.
Indonesia,
menurutnya, sedang berada di titik balik yang sangat positif.
Comments
Post a Comment